Senin, 5 Desember 2016
   HOME   PRODUK PERUNDANGAN   PROFIL      KONTAK KAMI    BUKU TAMU    GALERI   LINK TERKAIT    SITEMAP   






LESSON STUDY MENDORONG PERUBAHAN BUDAYA  DAN SIKAP MENGAJAR GURU

Last update 10 Desember 2010

OLEH

ASY’ARI, S. Pd

Widyaiswara Muda

 

ABSTRAK

Lesson study adalah bentuk utama peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan keprofesionalan guru yang dipilih oleh guru-guru Jepang. Dalam melaksanakan lesson study guru secara kolaboratif  dalam mendesain pembelajaran, melaksanakan dan mengamati research lesson dan melakukan refleksi dalam rangka penyempurnaan pada pelajaran yang akan datang.

Tahap-tahap pelaksanaan lesson study berupa: 1) Plan (Merencanakan pembelajaran), 2) Do (Melaksanakan pembelajaran yang direncanakan), 3) See (Melaksanakan merefleksi dan diskusi bersama pengamat). Adapun lesson study di indonesia dilaksanakan dalam dua bentuk, yaitu :  1) Lesson study berbasis musyawarah guru mata pelajaran (LSMGMP), 2) Lesson study berbasis sekolah. (LSBS)

Kegiatan lesson study mempengaruhi perubahan budaya mengajar guru diantaranya adalah: 1) Terbangunnya komunikasi antar sesama guru, 2) Kemampuan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang lebih detil dan beroreintasi pada upaya pembimbingan siswa. 3) Posisi atau setting kelas yang tidak lagi pola konvensional, 4) Terbukanya wawasan guru menggali berbagai macam metode dan tekhnik pembelajaran dikelas.  5) Terbangunnya guru dalam kreasi dan mencipta media pembelajaran, 6) Tersedianya data base siswa yang sering mengaalmi kesulitan belajar dan membutuhkan penanganan khusus.

Dampak pelaksananaan lesson study akan  membentuk sikap guru diantaranya : 1) Semangat  mengkritik diri sendiri, 2) Keterbukaan terhadap masukan yang diberikan oleh orang lain, 3) Guru pelaksana lesson study mengedepankan sikap mau mengakui kesalahan. 4) Bersikap terbuka terhadap ide orang lain, tidak berusaha mencari hasil pemikiran sendiri yang “asli” atau “murni” yang terpenting adalah hasil pemikiran itu dapat menggalakkan peserta didik untuk belajar.

Kata Kunci : lesson study, plan, do, see, LS MGMP, LS BS, budaya mengajar, sikap guru

 

A.    Pendahuluan

Lesson study merupakan kegiatan yang sudah lama diterapkan di jepang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan sekarang mulai diadopsi di indonesia. Penerapan lesson study melalui tahapan-tahapan di dalamny berupa merencanakan (plan),  melaksanakan dan mengobservasi (do), dan merefleksi (see). Melalui 3 tahapan ini guru mampu mendesain pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sesuai plan dan merefleksi pembelajaran yang telah dilaksanakan secara konfrehensif

Essensi lesson study bagi siswa adalah bagaimana menggerakkan semangat dan kebebasan siswa dalam belajar. Keberhasilan dalam belajar adalah ketika siswa dapat melewati waktu demi waktu proses pembelajaran yang berjalan secara nyaman, terkonsentrasi, ikut dalam runut berfikir dana bermakna.

Kegiatan lesson study juga diharapkan mampu memberikan perubahan  budaya  guru. Dimana budaya guru-guru dulunya suka mengajar tanpa persiapan yang matang, media yang seadanya, metode yang kurang bervariatif, setting duduk yang masih monoton, perhatian guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan masih kurang.  Budaya tersebut diharapkan dapat dikikis dengan melibatkan guru tersebut dalam kegiatan lesson study.

Masih banyaknya sikap guru yang masih tertutup, tidak mau pembelajaran mereka dilihat orang lain, tidak mau menerima kritikan dan saran  saat melakukan mengajar, serta masih belum terbukanya dengan ide-ide yang ditawaran orang lain untuk memperbaiki pembelajaran. Sikap-sikap ini tentunya menghambat kinerja seorang guru terhadap kematangan kompetensi kepribadian, sosial maupun profesionalismenya. Sudah barang tentu dengan mengikuti kegiatan lesson study, guru diharapkan mampu merubah sikap-sikap menuju ke  arah yang lebih positif.

.

B.     Pengertian Lesson Study

Lesson study merupakan suatu pendekatan peningkatan kualitas pembelajaran yang awal mulanya berasal dari Jepang. Di negara tersebut, kata atau istilah itu  lebih populer dengan sebutan “jugyokenkyu” (Yoshida, 1999 dalam Lewis, 2002). Menurut istilah bahasa Indonesia bisa disebut juga sebagai “studi pembelajaran” atau “kaji pembelajaran”. Menurut  Wang-Iverson (2002) kata “lesson” meliputi tidak hanya deskripsi mengenai apa yang akan diajarkan dalam jangka waktu tertentu, tetapi meliputi hal-hal yang jauh lebih luas.

Lesson study adalah bentuk utama peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan keprofesionalan guru yang dipilih oleh guru-guru Jepang. Dalam melaksanakan lesson study guru secara kolaboratif  :

1.      Mempelajari  kurikulum dan merumuskan tujuan  pembelajaran dan tujuan pengembangan peserta didik (pengembangan kecakapan hidup)

2.      Merancang pembelajaran untuk mencapai tujuan

3.      Melaksanakan dan mengamati suatu research lesson (pembelajaran yang dikaji)

4.      Melakukan refleksi untuk mendiskusikan pembelajaran yang dikaji dan menyempurnakan dan merencanakan  pembelajaran berikutnya.

Menurut Styler dan Hiebert (dalam Spark, 1999) lesson study adalah suatu proses kolaboratif pada sekelompok guru ketika mengidentifikasi masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran (yang meliputi kegiatan mencari buku dan artikel mengenai topik yang akan dibelajarkan), membelajarkan peserta didik sesuai skenario (salah seorang guru yang melaksanakan pembelajaran, sementara yang lain mengamati), mengevaluasi dan merevisi skenario pembelajaran, membelajarkan lagi  skenario pembelajaran yang telah direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan hasilnya dengan guru-guru lain (mendiseminasikannya).

 

C.    Tahap Kegiatan Lesson Study

Lesson study dilaksanakan dalam tiga tahapan , yaitu

1. Plan (Merencanakan) . Tahap ini merupakan membuat rancangan/merencanakan pembelajaran (Design lesson) yang akan dilaksanakan berupa  : a) identifikasi masalah pembelajaran terkait materi ajar, teaching material, strategi pembelajaran , b) menentukan guru model, perencanaan pembentukan kelompok siswa pada saat pembelajaran berlangsung, serta denah tempat duduk agar mudah diamati obserber, c) menentukan pihak-pihak yang akan diundang sebagai obserber seperti guru sebidang, guru mata pelajaran lain, kepala sekolah, ahli pendidikan bidang studi, pejabat yang berkepentingan, masyarakat pemerhati pendidikan.

2. Do (Melaksanakan) . Tahap ini  melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada desain pembelajaran yang sudah dirancang pada saat plan. Sebelum pelaksanaan ada pengarahan dari kepala sekolah  Briefing yang dilakukan kepala sekolah menjelaskan  : a) LS yang akan dilakukan secara umum, b) membagikan fotocopy desain pembelajaran. c) mempersilahkan guru model menjelaskan rencana pembelajarannya, d) membacakan tata tertib saat melakukan obeservasi, e)Mempersilahkan guru model memasuki kelas untuk melaksanakan pembelajaran dan obserber menempatkan diri pada tempat strategis sesuai rencana pengamatannya masing-masing, rencana melakukan rekaman video.

3. See (Refleksi). Kegiatan ini berupa penggalian hasil temuan dari semua observer saat pelaksanaan do yang kemudian dibahas secara bersama beserta solusinya.. Kegiatan yang disebut See ini berupa : a) Kepala sekolah (fasilitaor, pemandu diskusi), guru model, dan pakar duduk didepan, b) fasilitator memperkenalkan peserta refleksi, c) guru model memberi komentar tentang proses pembelajaran yang telah dilakukan, d) Setiap observer mengajukan hasil pengamatan dan pendapatnya serta memberikan solusinya, e) Telaahan dari tenaga ahli mengannalisa serta merangkum/menyimpulkan hasil diskusi, f) pengumuman open class berikutnya.

 

D.    Bentuk- Bentuk Kegiatan Lesson study

Lesson study di Indonesia saat ini dilaksanakan dalam dua bentuk.

  1. Lesson study berbasis musyawarah guru mata pelajaran  (LS MGMP)

Program lesson study dilaksanakan dengan  cara menggabungkan semua guru-guru yang memiliki bidang study yang sama dari beberapa sekolah dalam satu zona/rayon/gugus yang sama kemudian disepakai hari pertemuan rutin setiap minggunya. Saat open class  yang menjadi guru model secara ditunjuk secara bergantian dan peserta MGMP yang lain menjadi observer.

  1. Lesson study berbasis sekolah (LSBS)

Bentuk lesson study  berbasis sekolah diterapkan pada sebuah sekolah tertentu saja. Sekolah ini menentukan hari tertentu dalam satu minggu untuk  melaksanakan program lesson study ini. Saat open class yang menjadi guru model adalah salah satu guru mata pelajaran yang mengajar di sekolah tersebut dan  yang menjadi observernya adalah seluruh guru yang berada di sekolah tersebut walau pun berbeda mata pelajarannya. Ini dilaksanakan rutin setiap minggunya dan dilakukan secara bergantian oleh seluruh guru mata pelajaran yang mengajar disekolah tersebut.

E.     Kegiatan Lesson Study Terhadap Perubahan Budaya Mengajar guru

Pelaksanaan lesson Study mampu menciptakan dampak yang positif terhadap perubahan budaya mengajar guru diantaranya adalah :

1.      Terbangunnya komunikasi antar sesama guru. Lesson study mendorong terjadinya interaksi dan komunikasi secara kolegial. Ini menciptakan rasa tanggung jawab bersama dalam memecahkan permasalahan seputar kesulitan belajar.

2.      Kemampuan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang lebih detil dan beroreintasi pada upaya pembimbingan siswa.

3.      Posisi atau setting kelas yang tidak lagi pola konvensional. Pola pembelajaran Lesson study mempengaruhi cara pengelolaan kelas ke arah model belajar kelompok. Pengaturan temapat duduk dengan model kelompok hampir menjadi kekhasaan dan budaya guru mengajar.

4.      Terbukanya wawasan guru menggali berbagai macam metode dan tekhnik pembelajran di kelas.  Dengan lesson study guru  lebih memahami tugasnya untuk mengaktifkan siswanya dengan berani mencoba dengan berbagai metode  dan tekhnik pembelajaran. Hal ini mengubah buadaya guru yang selama ini cenderung berceramah menjadi harus menyesuaikan dengan situasi kelas dan membiasakan siswa untuk mulai berani presentasi di depan kelas.

5.      Terbangunnya guru dalam kreasi dan mencipta media pembelajaran. Sebelum open class guru mempersiapkan  media pembelajaran seoptimal mungkin agar dapat meningkatkan perhatian, pemahaman dan partisipasi siswa dalam belajar. Semakain guru dapat berkreasi dan berinovasi  untuk menyediakan  media yang unik, menarik dan menantang, akan menggerakkan siswa dalam belajar dan memudahkan dalam pengelolaan kelas

6.      Tersedianya data base siswa yang sering mengalami kesulitan belajar dan membutuhkan penagan khusus. Saat open classs guru dapat lebih optimal dapat mengamati terhadap siwa yang megalami kesulitan.

F.     Kegiatan Lesson Study Terhadap Perubahan Sikap Guru

Dampak pelaksananaan lesson study akan  membentuk sikap guru sebagai berikut :

1.      Semangat  mengkritik diri sendiri” merupakan salah satu nilai yang dikembangkan dalam lesson study (bahas Jepangnya hansei), yaitu melakukan refleksi secara jujur untuk memperbaiki kekurangan diri sendiri. Pada akhir setiap jam pembelajaran atau akhir jam sekolah, akhir minggu, akhir semester dilakukan refleksi diri (hansei). Peserta didik melakukan hansei dengan mengajukan pertanyaan, seperti: Apakah saya sudah mencoba dengan sekuat tenaga?”, “Apakah saya ingat materi apa yang harus saya bawa ke sekolah sepanjang minggu ini”, “ Apakah saya sudah melakukan perbuatan berdasar cinta kasih ke teman-teman saya” , “ Apa yang masih perlu saya perbaiki?”. Pelaksanaan refleksi yang dilakukan peserta didik dan guru itu bersifat menular. Orang yang mendengarkan hasil refleksi orang lain hakikatnya akan mulai menanyai diri sendiri juga, apakah dia telah melakukan yang terbaik yang harus dilakukan. Kebiasaan melakukan refleksi diri merupakan salah satu  kunci pendukung pelaksanaan lesson study (dan pembaruan pendidikan di Jepang).

2.      Keterbukaan terhadap masukan yang diberikan oleh orang lain. Berbagai pengalaman melalui lesson study merupakan suatu hal yang perlu dipelajari karena biasanya guru merasa malu bila proses pembelajaran dilihat oleh orang lain. Bahkan, terjadi seorang guru jatuh sakit gara-gara harus melakukan peer teaching. Oleh karena itu, guru yang dapat melaksanakan lesson study adalah guru yang mau “ belajar sepanjang hayat” dan mau memperoleh masukan dari orang lain.

3.      Guru pelaksana lesson study mengedepankan sikap mau mengakui kesalahan. Perubahan akan terjadi bila orang mau menyediakan waktu dan upaya untuk melakukan perubahan  karena mungkin  didalamnya akan ada kesalahan-kesalahan. Sebagai manusia tidak luput dari kesalahan, guru jarang melaksanakan pembelajaran secara sempurna. Melalui lesson study guru berkesempatan secara pelan-pelan memperbaiki dan menyempurnakan pembelajaran yang dilakukan dan sekaligus membangun budaya sekolah yang bersifat pada inquiri dan perbaikan. Jadi, guru dapat belajar dari pembelajaran yang kurang sempurna setelah merancang, melaksanakan dan mendiskusikan pembelajaran tersebut.

4.      Bersikap terbuka terhadap ide orang lain, tidak berusaha mencari hasil pemikiran sendiri yang “asli” atau “murni” yang terpenting adalah hasil pemikiran itu dapat menggalakkan peserta didik untuk belajar. Kuncinya yakni bagaimana membelajarkan peserta didik agar terbantu dalam belajar daripada mencari “ide murni (ide sendiri)” pelaksanaan  pembelajaran yang mungkin kurang tepat membelajarkan peserta didik. Oleh karena itu, dalam lesson study guru tidak berangkat dari nol, tetapi memulai dari yang sudah ada, yang dilakukan orang dan  memaksimalkan diri pada bagaimana dapat meningkatkan secara berkesinambungan proses dan isi pembelajarannya.

5.      Guru mau memberikan masukan secara jujur dan penuh respek. Sikap ini perlu dikembangkan oleh guru yang terlibat dalam lesson study. Mereka secara bersama-sama harus mencari cara agar terhindar dari dua hal yang ekstrim, yaitu “happy talk” (dimana orang malu untuk tidak sepakat atau untuk mengkritik) dan “harping” (dimana orang merasa dan bertindak sedemikian seolah-olah ego mereka bergantung pada atau akan  naik bila mereka dapat menjatuhkan atau mempermalukan orang lain).  Menurut guru-guru di Jepang, balikan kritis menandakan bahwa guru yang memberikan itu respek terhadap pembelajaran yang dilakukan. Dengan kritikan yang diberikan diharapkan kita dapat semakin berkembang karena dalam pembelajaran ada yang harus diperbaiki. Sebaliknya, akan sangat mengecewakan bila kolega yang mengamati pembelajaran kita tidak menyatakan apa-apa.

G.    PENUTUP

Kegiatan lesson study memberikan nuansa yang berdampak yang positif terhadap perubahan sikap dan budaya guru dalam mengajar disekolah. Melalui tahapan-tahapan lesson study mulai dari plan, do dan see memunculkan  interaksi dan komunikasi antar guru dan rasa tanggung jawab bersama.  Terjadi diskusi yang matang dalam perencanaan pembelajaran saat plan, kemudian mengamati jalannya proses pembelajaran saat do, dan merefleksi tentang kelemahan-kelemahan saat pelaksaan do serta mencari solusinya.

Perubahan budaya juga terjadi pada guru dalam mengajar melalui lesson study seperti  mampu membangun komunikasi sesama guru, merancang perencanaan pembelajaran yang beroreintasi pada siswa, setting kelas yang sudah tidak selalu konvensional, bervariasinya metode mengajar guru, penggunaan media pembelajaran yang optimal, mengetahui sekumpulan data siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran sehingga mudah dalam mencarikan jalan keluarnya.

Lesson study juga mampu menimbulkan perubahan sikap guru berupa  menumbuhkan semangat untuk mengkritik diri, terbuka terhadap masukan orang lain, mengakui kesalahan yang telah dilakukan, menerima ide-ide orang lain, melatih untuk memberikan masukan secara jujur ,  perhatian dan disampaikan secara santun. Perubahan sikap ini menunjang terhadap kematangan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial seorang guru yang sangat menunjang terhadap tugas kesehariannya..

Dari gambaran di atas menunjukkan betapa pentingnya pelaksanaan lesson study yang dapat mendorong perubahan budaya dan sikap guru. Perubahan-perubahan yang menuju ke arah positif ini sangat menunjang terhadap kinerja seorang guru yang dituntut menjadi seorang guru yang profesional. Oleh karena itulah perlu dukungan semua pihak agar program lesson study dapat disosialisasikan dan  dilaksanakan di lingkungan  sekolah/madrasah yang diterapkan baik melalui lesson study berbasis musyawarah guru mata pelajaran maupun lesson study berbasis sekolah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Lewis, Chatherine C. 2002. Lesson Study : Ahandbook of Teacher Led Instructional Change, Philadelpia, PA : Research for Better School, Inc.

Lewis, Chaterine; Pery, Rebecca; and Murata, Aki. 2006. How Should Research Contribute to Instructional Improvement? The Case of Lesson Study. Educational Research.

Spark, Dennis. 1999. Using lesson study to Improve Teaching. http://www/learningpt.org/msc/product/tot.html.

Susilo, Herwati, dkk. 2009. Lesson Study Berbasis Sekolah. Malang. Bayu media  Publishing.

Wang-Iverson, Patsy. 2002. Why lesson study? http://www.rbs.org/lesson study/conference/2002/papers/wong.html.

 

 

 

©2010 Kementerian Agama Republik Indonesia Pusat Informasi Keagamaan dan Kehumasan
Halaman ini diproses dalam waktu 0.005189 detik